Synodontis Batik

Nama umum: Synodontis Batik

Nama ilmiah: Synodontis eupterus

Famili: Mochokidae (Keluarga lele bersungut / upside-down catfish)

Asal habitat: Tersebar luas di kawasan Afrika Tengah dan Barat, meliputi Cekungan Sungai White Nile, Sungai Niger, Sungai Volta, Sungai Chad, hingga Sungai Logone. Mereka menghuni sungai berarus lambat, anak sungai, rawa-rawa, serta area dataran banjir yang kaya akan vegetasi atau struktur kayu tenggelam.

Ukuran: 18–22 cm

Harapan hidup: 10 hingga 15 tahun


Ciri-Ciri dan Morfologi

Synodontis eupterus adalah anggota keluarga Mochokidae yang sangat megah dan mudah dikenali. Tubuhnya kekar, memampat ke samping, dengan warna dasar abu-abu keperakan hingga cokelat zaitun yang dipenuhi oleh bintik-bintik bundar berwarna cokelat tua hingga hitam pekat. Ciri morfologi paling spektakuler terletak pada sirip punggungnya (dorsal fin) yang sangat lebar, tinggi, dan terpisah-pisah di bagian ujungnya menyerupai helai bulu burung (feathered/filamentous rays). Mereka memiliki sepasang sungut rahang atas yang panjang serta dua pasang sungut rahang bawah yang bercabang-cabang (feathered barbels) yang kaya akan organ perasa, serta sirip lemak (adipose fin) yang relatif besar di bagian belakang.


Habitat dan Perilaku

Di alam liar, spesies ini menyukai dasar perairan berdasar lumpur atau pasir yang menyediakan banyak celah untuk bersembunyi, seperti akar pohon rawa dan tumpukan batu. Mereka bersifat benthopelagik, nokturnal, dan teritorial terbatas. Synodontis eupterus memiliki kebiasaan unik khas kelompoknya: sering berenang atau melayang dalam posisi terbalik (upside-down swimming), terutama saat mencari makan di bawah permukaan kayu, daun, atau langit-langit gua. Meskipun tergolong damai terhadap ikan perenang tengah/atas berukuran sedang hingga besar, mereka bisa menjadi sangat agresif dan teritorial terhadap sesama jenisnya (conspecifics) atau ikan pemukim dasar lain saat memperebutkan wilayah persembunyian.


Pola Makan

Spesies ini adalah omnivora opportunistik / scavenger bentik yang sangat tangguh. Di habitat aslinya, diet mereka sangat variatif, mencakup invertebrata kecil, larva serangga air, cacing, moluska, detritus organik, serta alga dan serasah tanaman air. Di lingkungan penangkaran, mereka bukanlah pemilih makanan; mereka dapat mengonsumsi pelet/wafer tenggelam, cacing darah, Artemia, udang kecil, serta pakan berbasis sayuran (seperti spirulina atau wafer alga) dengan sangat cepat.


Fakta Menarik

  • Suara Vokalisasi (Squeaking Sound): Julukan “Squeaker” didapatkan karena kemampuan mereka mengeluarkan suara derit (stridulation) yang cukup keras saat terangkat dari air atau merasa terancam. Suara ini dihasilkan dari gesekan tulang sirip dada (pectoral spine) pada rongga dadanya.

  • Morfosis Sirip Bulu: Sirip punggung panjang yang memikat menyerupai bulu ayam tidak langsung dimiliki saat masih juvenil. Ikan muda (ukuran 3–5 cm) memiliki pola garis-garis retikulasi melengkung (pola zebra/marbel) dan baru akan mengembangkan bentukan “bulu” pada sirip punggungnya seiring bertambahnya usia dan ukuran tubuh.

  • Perlindungan Duri Beracun: Duri utama pada sirip punggung dan sirip dadanya sangat tajam, keras, dan memiliki gerigi tipis. Duri ini mengandung lapisan lendir yang dapat menimbulkan rasa nyeri dan pembengkakan jika menusuk kulit manusia atau predator, sehingga membutuhkan kehati-hatian ekstra saat dipindahkan dengan jaring.

Berlangganan Layanan Email Kami

Dapatkan informasi mengenai Promo dan Kegiatan di Jagat Satwa Nusantara