Di dalam ekosistem rawa gambut yang tenang, kehidupan Parosphromenus selalu dibayangi oleh para pemburu yang mengintai dari berbagai sudut. Bertahan hidup di lingkungan yang ekstrem memerlukan kewaspadaan tinggi, karena bahaya datang dalam bentuk yang berbeda seiring dengan pertumbuhan mereka.
1. Predator Bagi Burayak (Anakan)
Masa-masa awal setelah menetas adalah fase paling kritis. Burayak yang ukurannya hanya sebesar butiran debu sangat rentan terhadap predator mikro yang hidup di sela-sela tanaman air:
-
Larva Serangga: Larva capung dan larva kumbang air adalah ancaman utama. Mereka memiliki rahang tersembunyi yang bisa meluncur sangat cepat untuk menyergap mangsa kecil.
-
Serangga Air Predator: Serangga seperti Anggang-anggang atau Kumbang Air dewasa seringkali mengintai di permukaan atau di bawah daun, mencari pergerakan burayak yang keluar dari perlindungan sarang.
-
Krill dan Udang Mikro: Beberapa jenis udang liar berukuran kecil seringkali bersifat oportunis dan dapat memangsa burayak yang baru saja belajar berenang di dasar rawa.
2. Predator Bagi Ikan Dewasa
Bagi Parosphromenus dewasa, ancaman beralih kepada pemburu yang lebih besar dan terampil. Keindahan sirip mereka yang berkilau terkadang justru menjadi target bagi musuh di darat maupun air:
-
Ikan Predator Hutan: Ikan Gabus (Channa) dan Betutu adalah predator puncak di rawa gambut. Dengan kemampuan menyamar di antara kayu, mereka dapat menelan Parosphromenus dalam satu sambaran.
-
Burung Raja Udang (Kingfisher): Burung ini adalah ancaman dari langit. Mereka memiliki penglihatan tajam yang mampu menembus permukaan air dan menyambar ikan yang sedang berenang terlalu dekat dengan permukaan.
-
Ular Air dan Katak Hutan: Predator melata ini sering bersembunyi di balik serasah daun kering. Mereka menunggu Parosphromenus lewat di depannya sebelum menyerang dengan gerakan yang hampir tak terlihat.
Strategi utama Parosphromenus untuk menghadapi para predator ini adalah dengan menjadi “hantu” di habitatnya. Dengan warna betina yang menyerupai daun kering dan kemampuan jantan untuk meredupkan warna saat terancam, mereka sangat bergantung pada kemampuan kamuflase dan kecepatan menyelinap ke dalam celah-celah sempit yang tidak bisa dijangkau oleh musuh-musuhnya. Keberlangsungan hidup mereka adalah sebuah tarian antara keindahan dan kewaspadaan di tengah kerasnya alam liar.