Nama umum: Ikan Pari Sungai
Nama ilmiah: Fluvitrygon oxyrhyncha
Famili: Dasyatidae
Asal habitat: Endemik di cekungan sungai-sungai besar Asia Tenggara, meliputi Cekungan Sungai Mekong (Kamboja, Laos, Thailand, Vietnam), Sungai Chao Phraya, serta di Indonesia utamanya menghuni Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas di Kalimantan Barat dan aliran sungai pedalaman Sumatra.
Ukuran: Lebar cakram tubuh (disc width) 30–60 cm (panjang total termasuk ekor cambuk dapat mencapai 1–1,2 meter).
Harapan hidup: 10 hingga 15 tahun
Ciri-Ciri dan Morfologi
Himantura oxyrhyncha memiliki cakram tubuh (pectoral disc) berbentuk oval memanjang yang sangat khas. Ciri morfologi paling menonjol dari spesies ini adalah moncongnya yang sangat panjang, pipih, dan meruncing tajam ke depan (long pointed snout). Permukaan punggung (dorsal) didominasi oleh warna dasar cokelat zaitun yang dihiasi oleh pola marbel/bercak-bercak retikulasi hitam dan cokelat tua yang rumit, berfungsi sebagai kamuflase alami. Bagian perutnya (ventral) berwarna putih krem polos dengan tepi kelabu. Mereka tidak memiliki sirip punggung, dan ekornya berbentuk cambuk yang sangat panjang (mencapai 2–3 kali lebar tubuhnya) yang dilengkapi dengan 1 hingga 2 duri sengat beracun di pangkalnya.
Habitat dan Perilaku
Di alam liar, pari air tawar ini mendiami dasar sungai-sungai tropis yang berarus sedang hingga lambat, estuari, serta rawa terhubung berdasar substrat lumpur halus atau pasir. Mereka adalah pemukim dasar sejati (benthic organism) yang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan mengubur sebagian besar tubuhnya di dalam lumpur/pasir, hanya menyisakan sepasang mata dan lubang pernapasan (spiracle) yang menyembul di permukaan. Mereka aktif bergerak di malam hari (nokturnal) untuk mencari makan di sepanjang lantai sungai. Saat terancam, mereka akan mengibaskan ekor cambuknya untuk mengarahkan duri beracunnya sebagai mekanisme pertahanan diri.
Pola Makan
Spesies ini adalah karnivora bentik / pemakan dasar (bottom feeder). Berbekal moncong runcingnya yang fleksibel dan organ sensorik Ampullae of Lorenzini yang peka terhadap sinyal listrik, mereka menggali lumpur halus untuk mendeteksi mangsa tersembunyi. Makanan utama mereka meliputi krustasea air tawar (udang rawa dan kepiting sungai), cacing bentik, moluska (siput air), larva serangga air, serta ikan-ikan kecil yang berenang di dasar air. Mereka menghancurkan cangkang mangsa menggunakan deretan gigi tumpulnya yang tersusun rapat di bagian bawah mulut.
Fakta Menarik
-
Revisi Taksonomi Genus: Penelitian filogenetik modern (Last et al., 2016) memindahkan pari sungai berkepanjangan moncong ini dari genus Himantura ke dalam genus Fluvitrygon, rumpun spesifik yang mencakup pari air tawar sejati Asia Tenggara.
-
Sengat Beracun Ekor: Sengatan dari duri ekornya mengandung racun proteinaceous yang menyebabkan nyeri hebat dan infeksi jaringan. Duri ini secara berkala akan tanggal dan tumbuh kembali seiring pertumbuhan tubuhnya.
-
Status Perlindungan & Keterancaman: Di Indonesia, pari sungai tutul termasuk dalam satwa terancam punah yang dilindungi secara penuh oleh undang-undang (Permen LHK). Populasi liar mereka mengalami penurunan drastis akibat degradasi habitat sungai Kapuas/Mekong, pencemaran air, serta penangkapan tidak ramah lingkungan.