Nama umum: Cangak Abu
Nama ilmiah: Ardea cinerea
Famili: Ardeidae
Asal habitat: Memiliki distribusi yang sangat luas di seluruh Dunia Lama. Mereka ditemukan di seluruh Eropa, Asia (termasuk Indonesia), dan sebagian Afrika. Mereka mendiami berbagai jenis lahan basah, baik air tawar maupun payau, mulai dari pesisir hingga dataran tinggi.
Ukuran: 84–102 cm (rentang sayap 155–195 cm)
Harapan hidup: 15 hingga 25 tahun
Ciri-Ciri dan Morfologi
Cangak Abu adalah burung air berukuran besar dengan postur yang tegap dan anggun. Tubuhnya didominasi oleh bulu berwarna abu-abu pucat, dengan bagian bawah berwarna putih bersih. Ciri khasnya terletak pada kepala yang berwarna putih dengan garis hitam tebal yang memanjang dari mata hingga ke belakang, berakhir pada jambul hitam yang menjuntai. Paruhnya panjang, lurus, dan sangat tajam berwarna kuning kecokelatan, berfungsi seperti tombak. Saat terbang, mereka memiliki siluet yang khas dengan leher yang ditekuk membentuk huruf “S” dan kepakan sayap yang lambat namun bertenaga.
Habitat dan Perilaku
Burung ini adalah penguasa lahan basah, sering terlihat berdiri mematung di pinggir sungai, danau, sawah, atau hutan bakau. Cangak Abu dikenal karena kesabarannya yang luar biasa saat berburu; mereka bisa berdiri tidak bergerak selama berjam-jam menunggu mangsa lewat sebelum melakukan serangan kilat dengan paruhnya. Meskipun sering mencari makan secara soliter dan sangat teritorial di area perburuan, mereka bersifat kolonial saat bersarang, di mana puluhan pasangan akan membangun sarang besar dari ranting di atas pohon-pohon tinggi yang disebut heronry.
Pola Makan
Sebagai predator puncak di ekosistem lahan basah, Cangak Abu memiliki diet karnivora yang sangat luas. Ikan adalah makanan utamanya, namun mereka adalah pemburu oportunistik yang rakus. Mereka juga memangsa katak, ular air, krustasea, dan serangga besar. Di daratan, mereka sering mengejutkan mangsa berupa mamalia kecil seperti tikus atau celurut, dan terkadang memangsa anak burung air lainnya. Teknik berburunya yang presisi memastikan hampir tidak ada mangsa yang bisa lolos setelah masuk dalam jangkauan paruhnya.
Fakta Menarik
-
Teknik “Stalking”: Selain berdiri diam, mereka juga memiliki teknik berburu dengan berjalan sangat lambat dan hati-hati agar tidak menimbulkan riak air yang bisa mengejutkan mangsa.
-
Leher Fleksibel: Struktur tulang lehernya yang unik memungkinkan burung ini melontarkan kepalanya ke depan dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa seperti pegas.
-
Suara Parau: Saat terbang atau merasa terganggu, mereka mengeluarkan suara serak yang sangat keras dan dalam, terdengar seperti “fraaank”, yang sering memecah kesunyian di area rawa.