Biawak Bakau

Nama umum: Biawak Bakau

Nama ilmiah: Varanus indicus

Famili: Varanidae

Asal habitat: Spesies ini memiliki distribusi yang sangat luas di wilayah Pasifik, mencakup Maluku, Papua, Kepulauan Solomon, hingga bagian utara Australia. Mereka adalah penghuni spesialis kawasan pesisir, terutama hutan bakau (mangrove) dan rawa-rawa dataran rendah.

Ukuran: 100–120 cm

Harapan hidup: 15 hingga 20 tahun


Ciri-Ciri dan Morfologi

Biawak Maluku adalah contoh luar biasa dari adaptasi reptil terhadap lingkungan semi-akuatik. Tubuhnya ramping dan atletis, didominasi oleh warna hitam atau hijau gelap dengan bintik-bintik kecil berwarna kuning emas yang tersebar merata di seluruh punggungnya. Salah satu ciri fisik yang paling penting adalah ekornya yang sangat panjang dan berbentuk pipih secara lateral (seperti dayung), yang memberikan dorongan kuat saat berenang di air. Lidahnya yang bercabang berwarna ungu gelap atau hitam, sangat peka dalam mendeteksi partikel kimia di udara maupun di permukaan air.


Habitat dan Perilaku

Sesuai dengan nama Inggrisnya, Mangrove Monitor, burung ini adalah penguasa ekosistem bakau. Mereka adalah hewan diurnal yang sangat lincah; mereka mahir memanjat pohon untuk berjemur atau mencari makan, namun juga sangat cepat saat berada di dalam air. Biawak ini dikenal karena sifatnya yang sangat waspada dan pemalu. Jika merasa terancam, mereka akan segera terjun ke air dan mampu menyelam dalam waktu yang cukup lama. Di beberapa pulau kecil di Pasifik di mana tidak ada predator besar lainnya, mereka sering kali mengambil peran sebagai predator puncak di ekosistem tersebut.


Pola Makan

Biawak Maluku adalah karnivora generalis dengan diet yang sangat beragam karena mereka berburu di dua alam (darat dan air). Di perairan, mereka memangsa ikan, kepiting, udang, dan moluska. Di daratan, mereka memburu berbagai jenis serangga besar, kadal lain, serta burung kecil dan telurnya. Mereka juga dikenal sebagai salah satu dari sedikit spesies biawak yang mampu memanen telur penyu dari sarang di pantai. Kemampuan mereka untuk memproses garam berlebih melalui kelenjar khusus di hidung memungkinkan mereka untuk mengonsumsi mangsa dari air laut tanpa mengalami dehidrasi.


Fakta Menarik

  • Penjelajah Samudera: Berkat kemampuannya berenang dan toleransinya terhadap air asin, spesies ini berhasil mengolonisasi banyak pulau terpencil di kawasan mikronesia yang tidak bisa dijangkau oleh reptil darat lainnya.

  • Ekor Multifungsi: Selain sebagai alat bantu renang yang utama, ekor mereka yang kuat juga berfungsi sebagai penyeimbang saat mereka memanjat dahan pohon yang licin di hutan bakau.

  • Pengendali Hama: Di beberapa wilayah, keberadaan mereka sangat dihargai karena membantu mengendalikan populasi hewan pengerat dan serangga yang berpotensi menjadi hama di pemukiman pesisir.

Berlangganan Layanan Email Kami

Dapatkan informasi mengenai Promo dan Kegiatan di Jagat Satwa Nusantara