Latar belakang:
Nuri Kabare (Psittrichas fulgidus) adalah burung endemik Papua yang kini berstatus Rentan (VU) menurut IUCN. Saat ini, Nuri Kabare dilindungi menurut Permen LHK No. 106 tahun 2018. Populasinya di alam terus menurun akibat perburuan, perdagangan ilegal, dan kerusakan habitat. Karena itu, Jagat Satwa Nusantara sebagai lembaga konservasi memiliki peran penting dalam menjaga kelangsungan hidup spesies ini melalui upaya pemeliharaan ex-situ.
Hasil dan Pembahasan:
Penelitian ini dilakukan di Kubah Soliter Taman Burung Jagat Satwa Nusantara TMII untuk menganalisis tiga aspek utama: aktivitas harian, interaksi sosial dan eksplorasi ruang, serta manajemen pakan. Seluruh data dikumpulkan menggunakan metode scan sampling setiap 5 menit pada pagi, siang, dan sore.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua individu nuri kabare yang diamati lebih banyak menghabiskan waktu untuk bertengger, yaitu sekitar 28–35% dari total aktivitas harian (Fahik, 2022). Aktivitas lain yang dominan adalah bersuara, berjalan, makan, dan grooming, yang menunjukkan bahwa burung tetap menampilkan perilaku alami meski berada dalam lingkungan buatan. Mereka jarang melakukan aktivitas seperti mandi, minum, atau bersarang, karena sebagian kebutuhan tersebut terpenuhi dari konsumsi buah-buahan yang tinggi kandungan airnya.
Dalam aspek interaksi sosial, kedua individu menunjukkan hubungan yang kompleks: mulai dari bertengger bersama, bersuara bersama, makan bersama, hingga allopreening yang membantu memperkuat ikatan sosial (Spoon, 2004). Sesekali muncul perilaku kompetitif seperti menghindar atau kejar-kejaran, namun tidak ditemukan perilaku agresif yang berlebihan. Interaksi dengan spesies lain seperti mambruk ubiaat dan blue-bellied roller relatif minim—sebagian besar spesies lebih memilih zona habitat berbeda sehingga potensi konflik kecil.
Kemampuan eksplorasi burung terhadap objek pengayaan kandang juga tinggi (Mettke et al., 2002). Mereka memanfaatkan berbagai tangkringan, pohon, dan area makan di dalam kandang. Penggunaan tangkringan bagian atas sangat dominan karena memberikan rasa aman layaknya habitat asli mereka yang biasa berada di kanopi pohon tinggi.
Dalam hal manajemen pakan, nuri kabare diberi beragam jenis buah seperti pepaya, apel, dan pisang—sesuai karakter mereka sebagai burung frugivora (Ashari, 2024). Pakan diberikan secara teratur dengan pemantauan sisa makanan untuk memastikan kecukupan nutrisi tanpa menimbulkan risiko kebusukan. Data konsumsi menunjukkan bahwa burung makan dengan baik, namun rekomendasi variasi pakan dan standar pemberian per individu tetap diperlukan untuk menjaga kondisi kesehatan jangka panjang.
Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa lingkungan kandang, pengayaan, dan manajemen pakan di Taman Burung Jagat Satwa Nusantara telah mendukung munculnya perilaku alami burung, menunjukkan tingkat adaptasi yang baik serta kesejahteraan yang relatif optimal. Meski demikian, beberapa aspek seperti peningkatan variasi pakan dan optimasi pengayaan masih dapat dikembangkan untuk kesempurnaan program konservasi.
Oleh: Alayfia (Mahasiswa Biologi, Universitas Negeri Jakarta)