“Ternyata, yang paling menarik dari sebuah akuarium bukan hanya kehidupan yang terlihat di balik kaca, melainkan dedikasi orang-orang yang setiap hari menjaganya.”
Ketika berkunjung ke sebuah akuarium, perhatian sering kali hanya tertuju pada ikan-ikan yang berenang di balik air jernih. Semuanya tampak tenang, indah, dan seolah berjalan dengan sendirinya. Namun, pengalaman selama mengikuti program Zoo Volunteer di Dunia Air Tawar Jagat Satwa Nusantara memperlihatkan sisi lain yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Di balik setiap riak air, ada proses panjang, ketelitian, dan kepedulian yang menjadi alasan mengapa kehidupan di dalamnya dapat terus terjaga.
Keinginan mengikuti program ini berawal dari hal yang sederhana: kecintaan terhadap ikan. Memelihara ikan hias sudah menjadi salah satu hobi yang paling disukai karena selalu menghadirkan ketenangan setelah menjalani berbagai aktivitas. Meski begitu, urusan perawatan sehari-hari di rumah lebih banyak dibantu oleh seorang keeper. Justru karena itulah muncul rasa penasaran. Bagaimana cara merawat ikan dalam jumlah yang jauh lebih banyak? Bagaimana kualitas air dijaga agar tetap ideal? Apa saja yang dilakukan di balik layar agar satwa tetap sehat? Rasa ingin tahu itulah yang akhirnya membawa langkah ini menjadi bagian dari Zoo Volunteer Jagat Satwa Nusantara.
Kesempatan tersebut berlangsung pada 20 Juni 2026 hingga 5 Juli 2026 dengan penempatan di area Dunia Air Tawar. Hari pertama diawali dengan kegiatan orientasi untuk mengenal setiap sudut area. Tidak hanya area yang dapat dinikmati oleh pengunjung, tetapi juga ruang-ruang operasional yang selama ini jarang diketahui keberadaannya.
Salah satu tempat yang paling menarik perhatian adalah laboratorium pemeriksaan kualitas air dan juga area terrarium. Selama ini, kejernihan air mungkin hanya dipandang sebagai bagian dari keindahan akuarium. Padahal, di baliknya terdapat proses pemantauan yang dilakukan secara rutin untuk memastikan setiap parameter tetap sesuai dengan kebutuhan masing-masing spesies ikan. Dari penjelasan para staf, mulai dipahami bahwa kualitas air bukan sekadar pelengkap, melainkan faktor utama yang menentukan kesehatan seluruh penghuni akuarium.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju koridor atas, sebuah area yang memberikan sudut pandang berbeda untuk melihat habitat ikan. Dari sana, terlihat bagaimana setiap akuarium dirancang menyerupai lingkungan alaminya. Orientasi juga dilanjutkan ke ruang penyimpanan dan persiapan pakan, area pemberian pakan, hingga kegiatan mengisi air Reverse Osmosis (RO) yang digunakan dalam proses pemeliharaan. Aktivitas-aktivitas tersebut terlihat sederhana, tetapi justru menjadi fondasi penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan satwa air.
Di antara seluruh pengalaman selama menjadi volunteer, ada satu momen yang paling membekas. Suatu hari, beberapa pengunjung mancanegara datang ke area Dunia Air Tawar. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk membantu mereka berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris sekaligus menjelaskan beberapa informasi mengenai area yang sedang dikunjungi. Awalnya hanya berniat membantu seperlunya, tetapi percakapan berlangsung cukup lama hingga tanpa disadari peran sebagai volunteer berubah menjadi seorang pemandu.
Sebelum melanjutkan perjalanan, mereka mengucapkan, “Thank you, you’ve been very helpful.” Kalimat yang sederhana itu justru menjadi salah satu kenangan paling berharga selama mengikuti program ini. Rasanya menyenangkan ketika kemampuan yang dimiliki ternyata dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Saat itu muncul kesadaran bahwa menjadi volunteer bukan hanya tentang membantu operasional, tetapi juga tentang menciptakan pengalaman yang menyenangkan bagi setiap pengunjung, tanpa memandang dari mana mereka berasal.
Interaksi dengan para staf Dunia Air Tawar juga memberikan banyak pelajaran yang mungkin tidak akan ditemukan di ruang kelas. Ketelitian mereka dalam bekerja begitu terasa, mulai dari memeriksa kualitas air, menyiapkan pakan, menjaga kebersihan area, hingga memastikan seluruh sistem berjalan dengan baik. Setiap orang memiliki perannya masing-masing, tetapi semuanya bergerak menuju tujuan yang sama, yaitu menjaga kesejahteraan satwa.
Dari pengalaman tersebut, muncul pemahaman bahwa konservasi bukan hanya berbicara tentang melindungi satwa. Konservasi juga berarti merawat kehidupan melalui hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari. Sesuatu yang mungkin tidak terlihat oleh pengunjung, tetapi menjadi alasan mengapa satwa dapat hidup dengan baik. Program Zoo Volunteer ini juga menjadi ruang untuk bertumbuh. Tidak hanya memperoleh pengetahuan baru mengenai satwa air tawar, tetapi juga belajar beradaptasi, bekerja sama, dan berkomunikasi dengan berbagai orang. Pengalaman-pengalaman sederhana itu perlahan membentuk cara pandang yang baru tentang arti kepedulian dan tanggung jawab.
Kini, setiap kali melihat akuarium di rumah, perhatian tidak lagi hanya tertuju pada ikan yang berenang di dalamnya. Pikiran justru teringat pada proses panjang yang menjaga kehidupan tersebut, air yang harus selalu berada pada kondisi terbaik, pakan yang disiapkan dengan tepat, hingga orang-orang yang bekerja tanpa banyak terlihat agar semuanya tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Terima kasih kepada seluruh keluarga besar Jagat Satwa Nusantara, khususnya tim Dunia Air Tawar, atas kesempatan untuk belajar secara langsung. Program ini bukan sekadar pengalaman menjadi volunteer, melainkan sebuah perjalanan yang mengubah cara memandang dunia konservasi.
Pada akhirnya, riak air tidak lagi hanya menghadirkan ketenangan. Riak air menjadi pengingat bahwa di balik sesuatu yang tampak sederhana, selalu ada kepedulian, ketekunan, dan kerja keras yang membuat kehidupan terus mengalir.