“Setiap kupu-kupu yang ditemukan bukan hanya sebuah nama dalam daftar biodiversitas, tetapi bagian dari cerita ekosistem. Dengan memahami kehidupan Lycaenidae dan hubungan ekologisnya, kita belajar bahwa menjaga keanekaragaman hayati berarti menjaga setiap hubungan kecil yang membuat sebuah ekosistem tetap hidup.”
Ketika berada di lapangan dan mencari kupu-kupu, perhatian kita sering tertuju pada spesies yang besar dan mencolok. Namun, di antara semak-semak, terdapat kelompok kupu kupu kecil yang tidak kalah menarik: Lycaenidae. Ukurannya mungkin kecil dan gerakannya cepat, tetapi kehidupan mereka menyimpan cerita yang jauh lebih kompleks daripada sekadar kupu-kupu yang terbang dari satu bunga ke bunga lainnya.
Selama melakukan pendataan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), saya beberapa kali menemukan Lycaenidae di titik pengamatan yang berbeda, seperti di Taman Burung Lama, Desa Wisata, Depan Museum Hakka, dan Belakang Dunia Air Tawar hingga Dunia Serangga Jagat Satwa. Dari berbagai titik tersebut, didapatkan perjumpaan dengan total jenis kupu-kupu famili Lycaenidae yang dijumpai sebanyak 15 spesies. Perjumpaan 15 spesies ini antara lain,
Arhopala centaurus, Castalius rosimon, Catophrysops strabo, Cupido lacturnus, Jamides celeno, Lampides boeticus, Luthrodes pandava, Neopithecops zalmora, Prosotas dubiosa, Prosotas nora, Rapala pheretima, Spalgis epius, Zizeeria karsandra, Zizina otis, dan Zizula hylax. Ditemukannya jenis-jenis tersebut, terutama di Taman Mini Indonesia Indah menjadi petunjuk bahwa habitat di sekitarnya mampu menyediakan kebutuhan hidup dari siklus hidup kupu-kupu.
Dari ke-15 jenis yang ditemukan, ada cerita menarik dibaliknya: Seperti ditemukan kupu kupu Lycaenidae yg terbawa dari perdagangan tanaman hias, fase larvanya memakan kutu putih, dan berasosiasi dengan semut. Menarik bukan? Lalu bagaimana hal-hal tadi bisa terjadi?
Kupu-kupu yang terbawa dari perdagangan tanaman hias ialah Luthrodes pandava dengan nama lokalnya Cycad Blue. Kupu-kupu ini diduga, terintroduksi bersama tanaman hias jenis Pakis Haji (Cycas revoluta), melalui perdagangan tanaman hias hingga sampai ke Indonesia dan ditemukan pula individu dewasa kupu-kupu L. pandava di TMII. Luthrodes pandava merupakan herbivor yang sangat berkaitan dengan tanaman Pakis Haji, karena telur atau larva yang berada pada pucuk muda tanaman dapat ikut berpindah bersama tanaman
dan adanya penanaman Pakis Haji sebagai tanaman hias ditaman-taman yang ada di TMII.
Pada saat larva, jenis kupu-kupu ini bersifat Entomofag. Kupu-kupu ini bernama Spalgis epius. Larvanya bersifat entomofag, yaitu memangsa serangga lain, khususnya kutu putih atau mealybugs yang termasuk kelompok Coccidae dan kerabatnya. Penelitian lapangan terhadap S. epius menunjukkan bahwa larvanya dapat memanfaatkan beberapa jenis mangsa dan ditemukan berasosiasi dengan semut yang mendatangi atau memelihara koloni kutu tersebut. Dengan demikian, larva S. epius bukan hanya bagian dari rantai makanan sebagai herbivor, tetapi dapat berperan sebagai predator serangga kecil. Perilaku ini bahkan membuatnya menarik untuk dikaji sebagai agen pengendali hayati kutu putih.
Lalu bagaimana larva kupu-kupu famili Lycaenidae dapat berasosiasi dengan semut? Banyak larva kupu-kupu famili Lycaenidae memiliki hubungan khusus dengan semut. Hubungan ini disebut Myrmecophily (myrmeco = semut, phily = menyukai). Hubungannya
sangat beragam: ada yang fakultatif (semut membantu tetapi larva masih dapat hidup tanpa semut), ada yang obligat (larva sangat bergantung pada semut), bahkan ada hubungan yang bersifat parasitik. Perlu digaris bawahi, bahwa tidak semua Lycaenidae otomatis mengalami mutualisme dengan semut.
Bagaimana cara larva kupu-kupu Lycaenidae mendatangkan semut? Larva Lycaenidae memiliki sejumlah struktur khusus pada tubuhnya salah satunya Dorsal Nectary Organ (DNO), DNO merupakan kelenjar khusus pada tubuh larva yang menghasilkan cairan/sekresi yang bernilai nutrisi bagi semut, sekresi tersebut diberikan kepada semut sebagai upah atas perlindungan semut terhadap ulat karena telah melindunginya dari predator atau parasitoid. Bahkan, keberadaan seekor ulat dapat memengaruhi perilaku organisme lain di sekitarnya.
Selain dari zat kimia, ulat dapat mengeluarkan sinyal kimia dan sinyal getaran atau vibrasi yang membantu memodifikasi respons semut terhadap larva (sebagai strategi perlindungan diri) dan sinyal tersebut membantu mengurangi agresivitas semut terhadap larva. Dan sinyal getaran ditujukan untuk berkomunikasi antara kedua organisme tidak hanya berlangsung melalui sentuhan dan senyawa kimia, tetapi juga melalui getaran yang dihasilkan oleh larva terhadap semut.
Menariknya, contoh-contoh tersebut memperlihatkan bahwa satu famili kupu-kupu dapat memiliki strategi hidup yang sangat beragam. Ada larva yang memanfaatkan tumbuhan, ada yang memangsa serangga seperti kutu putih, ada yang hidup di dalam sarang semut dan memangsa brood, dan ada pula yang menjalin hubungan saling menguntungkan dengan semut. Perbedaan tersebut membuat Lycaenidae menjadi kelompok yang menarik bukan hanya untuk diidentifikasi, tetapi juga untuk dipahami melalui hubungan ekologisnya.
Dari pengalaman pengamatan di lapangan, saya menyadari bahwa menemukan seekor kupu-kupu dewasa hanyalah melihat satu bagian kecil dari siklus hidupnya. Di balik individu yang terbang di antara vegetasi, terdapat fase larva dengan kebutuhan serta interaksi yang berbeda dan menarik untuk dipelajari lebih lanjut. Karena itu, mempelajari Lycaenidae tidak cukup hanya dengan melihat warna dan bentuk sayapnya. Kita juga perlu melihat lingkungan di sekitarnya dan memperhatikannya dengan seksama dengan baik.
Lycaenidae mengingatkan kita bahwa ukuran tidak menentukan pentingnya sebuah organisme. Kupu-kupu kecil ini memperlihatkan bahwa alam bekerja melalui hubungan yang rumit antara larva dan tumbuhan, predator dan mangsa, serta kupu-kupu dan semut. Memahami hubungan tersebut membuat kegiatan pengamatan biodiversitas menjadi lebih dari sekadar mencatat nama spesies. Kita belajar membaca sebuah ekosistem melalui kehidupan kecil yang sering kali hampir tidak terlihat.