“Pengalaman membudidayakan kroto menunjukkan kepada saya bahwa serangga memiliki peran yang jauh lebih besar dari yang sering kita bayangkan. Dengan pengelolaan yang tepat, semut rangrang dapat menjadi sumber pakan satwa sekaligus sarana untuk mengenalkan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.”
Semut rangrang (Oecophylla smaragdina) merupakan salah satu serangga yang memiliki peran penting, baik dalam ekosistem maupun sebagai penghasil kroto yang bernilai ekonomi tinggi. Kroto, yaitu kumpulan telur, larva, dan pupa semut rangrang, dikenal sebagai pakan berkualitas tinggi bagi berbagai jenis burung, ikan hias, reptil, hingga satwa insektivora karena mengandung protein yang tinggi. Di Dunia Serangga Jagat Satwa Nusantara (JSN) TMII, budidaya kroto tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan pakan satwa koleksi, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pemanfaatan serangga secara berkelanjutan.
Selama menjalani kegiatan magang di Dunia Serangga Jagat Satwa Nusantara TMII, saya berkesempatan mempelajari secara langsung proses pembudidayaan kroto, mulai dari pengambilan koloni semut rangrang di alam hingga proses panennya. Pengalaman ini memberikan gambaran bahwa budidaya kroto membutuhkan ketelitian, kesabaran, serta pemahaman terhadap perilaku semut rangrang agar koloni dapat berkembang dengan baik.
Proses Pembudidayaan Kroto di Dunia Serangga Jagat Satwa Nusantara TMII
Proses budidaya diawali dengan menyiapkan berbagai peralatan yang diperlukan. Keeper terlebih dahulu menyiapkan kotak kayu berbentuk persegi panjang sebagai tempat adaptasi koloni setelah ditangkap dari alam. Selain itu, disiapkan pula rak besi sebagai tempat meletakkan toples budidaya, beberapa toples plastik transparan berukuran sekitar satu liter sebagai media pembentukan sarang baru, bambu panjang yang telah dimodifikasi untuk menjangkau sarang di atas pohon, karung sebagai wadah penampung, serta tepung yang digunakan untuk membantu meminimalkan gigitan semut saat proses penangkapan berlangsung.
Tahapan berikutnya adalah melakukan pengamatan terhadap pohon-pohon yang menjadi habitat semut rangrang. Tidak semua pohon dipilih sebagai lokasi pengambilan koloni. Keeper terlebih dahulu memastikan bahwa pohon memiliki sarang aktif dengan jumlah pekerja yang banyak dan kondisi koloni yang sehat. Pemilihan koloni yang baik sangat penting karena akan memengaruhi kemampuan semut dalam beradaptasi setelah dipindahkan ke media budidaya.
Sebelum proses penangkapan dilakukan, keeper mengoleskan tepung pada tangan dan kaki. Tepung berfungsi mengurangi daya cengkeram semut pada kulit sehingga risiko gigitan dapat diminimalkan. Selanjutnya, bambu panjang yang telah dimodifikasi digunakan untuk menjangkau sarang yang berada di bagian atas pohon. Sarang dipotong secara perlahan bersama ranting tempat melekatnya agar bentuk sarang tetap utuh dan semut tidak mengalami stres yang berlebihan. Kehati-hatian pada tahap ini sangat penting karena kerusakan sarang dapat mengganggu keberlangsungan koloni, terutama apabila ratu ikut terdampak.
Setelah berhasil ditangkap, sarang beserta koloninya segera dipindahkan ke dalam kotak kayu persegi panjang yang telah dipersiapkan sebelumnya. Di dalam kotak tersebut dipasang beberapa batang bambu yang menghubungkan bagian dasar kotak dengan toples plastik di bagian atas. Media ini berfungsi sebagai jalur perpindahan semut menuju tempat bersarang yang baru. Pada tahap awal, koloni akan beradaptasi dengan lingkungan barunya. Dalam waktu sekitar dua hingga tiga hari, semut pekerja mulai aktif menjelajahi area budidaya dan secara bertahap berpindah menuju toples. Mereka kemudian membangun sarang baru dengan memanfaatkan kemampuan larva menghasilkan benang sutra yang digunakan untuk merekatkan daun maupun membentuk struktur sarang di dalam toples.
Perawatan Koloni dan Pemberian Pakan
Setelah koloni menetap dan sarang baru mulai terbentuk di dalam toples, setiap toples dipindahkan ke rak budidaya. Penataan toples pada rak bertujuan mempermudah proses pemeliharaan, pemberian pakan, pengamatan kondisi koloni, serta kegiatan panen. Rak juga membantu menjaga kerapian ruang budidaya sehingga aktivitas semut tidak mudah terganggu.
Selama masa pemeliharaan, semut rangrang memerlukan pakan yang mengandung sumber energi dan protein. Di Dunia Serangga Jagat Satwa Nusantara TMII, sumber energi diberikan dalam bentuk gula pasir dan gula merah yang diletakkan pada wadah kecil di sekitar rak budidaya. Selain karbohidrat, semut juga memerlukan protein untuk menunjang
pertumbuhan larva dan pembentukan kroto. Pada budidaya secara umum, sumber protein dapat berasal dari jangkrik, ulat hongkong, belalang, ulat kandang, maupun serangga kecil lainnya. Ketersediaan pakan yang cukup menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga produktivitas koloni.
Selain pakan, kondisi lingkungan juga sangat memengaruhi keberhasilan budidaya. Ruangan budidaya harus memiliki sirkulasi udara yang baik, terhindar dari sinar matahari langsung, serta memiliki suhu dan kelembapan yang relatif stabil. Kondisi lingkungan yang nyaman akan membuat koloni lebih cepat beradaptasi dan mampu menghasilkan kroto secara optimal.
Berdasarkan berbagai penelitian mengenai budidaya semut rangrang di Indonesia, koloni umumnya membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua minggu untuk beradaptasi sepenuhnya setelah dipindahkan dari alam. Produksi kroto mulai meningkat setelah koloni stabil, dan panen pertama umumnya dapat dilakukan sekitar 30–45 hari setelah proses adaptasi. Selanjutnya, panen dapat dilakukan secara berkala setiap 14–21 hari, tergantung pada kekuatan koloni, ketersediaan pakan, dan kondisi linkungan budidaya.
Panen Kroto dan Pemanfaatannya sebagai Pakan Satwa
Di Dunia Serangga Jagat Satwa Nusantara TMII, kroto dimanfaatkan sebagai salah satu pakan satwa pemakan serangga karena memiliki protein tinggi, asam amino esensial, lemak, dan mineral. Selain itu, budidaya kroto juga menjadi media edukasi bagi pengunjung mengenai pemanfaatan serangga secara berkelanjutan.
Proses panen kroto dilakukan secara hati-hati untuk menjaga produktivitas dan keberlangsungan koloni semut rangrang. Toples sarang dilepaskan dari rak, kemudian kroto dipanen secukupnya menggunakan alat bantu, seperti sendok atau pinset, guna meminimalkan gangguan terhadap koloni. Sebagian telur dan larva tetap dibiarkan berada di dalam sarang sebagai sumber regenerasi sehingga perkembangan koloni dapat terus berlangsung. Setelah proses panen selesai, toples sarang dipasang kembali pada rak pemeliharaan, kemudian semut diberikan pakan untuk mempercepat proses pemulihan dan mempertahankan kondisi koloni. Selanjutnya, kroto hasil panen dikirim ke Food Preparation di JSN TMII untuk dilakukan penanganan dan persiapan sebelum didistribusikan sebagai pakan bagi berbagai jenis satwa sesuai dengan kebutuhan nutrisi masing-masing.
Tantangan dalam Budidaya Kroto
Dalam praktik budidaya, terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhatikan. Predator seperti cicak, tokek, laba-laba, semut lain, maupun tikus dapat mengganggu koloni apabila sanitasi ruangan kurang terjaga. Selain itu, kelembapan yang terlalu tinggi dapat memicu pertumbuhan jamur pada sarang sehingga kebersihan rak, wadah pakan, dan ruangan budidaya harus selalu dipelihara secara rutin.
Penutup
Melalui kegiatan magang di Dunia Serangga Jagat Satwa Nusantara TMII, saya memperoleh pengalaman yang sangat berharga mengenai teknik budidaya kroto secara langsung. Tidak hanya memahami tahapan penangkapan dan pemeliharaan semut rangrang, saya juga belajar bahwa keberhasilan budidaya sangat bergantung pada ketelitian dalam mengelola koloni, menjaga kebersihan lingkungan, serta menyediakan pakan yang sesuai. Pengalaman ini memberikan wawasan baru mengenai potensi budidaya serangga sebagai sumber pakan satwa sekaligus menjadi media edukasi dan konservasi yang bermanfaat bagi masyarakat.