#CERITAMAGANG Atina: Dua Minggu Memahami Kesehatan Satwa Liar di Jagat Satwa Nusantara

“Dua minggu di Jagat Satwa Nusantara mengajarkan saya bahwa menjaga kesehatan satwa liar tidak dimulai ketika mereka sakit, tetapi sejak bagaimana kita merawat, mengamati, dan memahami kebutuhan mereka setiap hari. Dari menjadi keeper di kubah Greater Sunda hingga belajar bersama dokter hewan di klinik, saya melihat bahwa husbandry dan tindakan medis adalah dua bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam menjaga kesejahteraan satwa.”

Halo, perkenalkan nama saya Damai sebagai peserta magang mandiri Jagat Satwa Nusantara-TMII yang sedang menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Berada di jurusan Kedokteran Hewan ini memberikan saya dorongan yang besar untuk mencari hal-hal dan pengalaman baru di lapangan selain mendapatkan teori di dalam ruang kuliah saja. Jagat Satwa Nusantara (JSN) – TMII membuka peluang berharga bagi saya untuk mempelajari secara langsung kehidupan satwa liar di lembaga konservasi ex-situ selama 2 minggu penuh, mulai tanggal 21 Juli hingga 3 Agustus 2026. 

Kami menjalani rotasi di dua tempat, yang pertama ditempatkan di Taman Burung tepatnya di kubah Greater Sunda(GS) selama satu minggu penuh. Rotasi minggu kedua, saya ditempatkan di Klinik hewan eksotik sesuai dengan arahan HRD JSN. Pembagian rotasi ini memberikan gambaran bagi saya secara utuh mengenai bagaimana tata kelola pemeliharaan harian di lapangan yang sangat berkesinambungan dengan penanganan medis preventif maupun kuratif dalam sebuah lembaga konservasi satwa liar. 

Kubah Greater Sunda (GS) terletak di sisi barat kawasan Taman Burung yang dirancang menjadi habitat bagi berbagai jenis burung dan unggas yang berasal dari wilayah Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, hingga Bali. Di dalam kubah ini, terdapat dua sistem perkandangan yang diterapkan secara berdampingan, ada sistem kubah bebas yang memungkinkan ratusan burung terbang lepas di antara pepohonan. Serta ada sistem kandang soliter yang dikhususkan untuk spesies berpasangan yang akan memudahkan pemantauan kesehatan yang lebih intensif. 

Selama satu minggu bersama para keeper kubah Greater Sunda yaitu ada Bang Tobing dan Bang Rifki, saya mendapatkan pelajaran berharga bahwa kunci utama kesejahteraan satwa liar di lingkungan konservasi dengan mendalami ilmu husbandry seperti pembersihan kandang, mengetahui porsi pakan sesuai dengan perilaku satwa, pencucian dan pengisian tempat minum/makan. Tugas keeper lebih daripada itu, mereka juga melakukan observasi kesehatan atau screening menyeluruh setiap pagi dan sore hari. Dengan pengamatan ini keeper akan melihat gerakan tubuh, keaktifan terbang, hingga pola nafas burung untuk mengetahui gejala awal suatu gangguan kesehatan dapat terdeteksi jauh sebelum kondisi klinisnya memburuk. 

Jadi selama saya di kubah Greater Sunda (GS) hari saya dimulai dengan membersihkan kandang dengan menyapu kandang soliter dan juga membersihkan bekas kotoran burung dengan air agar tidak menjadi sumber penyakit. Tidak lupa kami juga mengisi air desinfektan di pijakan kaki sebelum masuk ke kubah GS untuk mengurangi resiko penyakit dari luar yang masuk kedalam kubah GS. Pada pukul 10 pagi kami mulai memberikan pakan-pakan yang sudah disiapkan oleh FoodPrep JSN untuk burung-burung di kubah GS, ada biji-bijian, buah-buahan, protein, pur dengan jangkrik, bahkan ada mencit untuk elang yang ada di dalam kubah. Setelah jam 4, waktunya kami mengambil nampan-nampan yang digunakan untuk menaruh pakan di kubah bebas dan kami juga sekalian untuk screening burung di sore hari. 

Kami ada pekerjaan tambahan jika weekend yaitu menjaga burung Rangkong Julang Emas bernama Rimba, yang berada di kubah bebas. Rimba sangat jahil, bukan berarti menyakiti pengunjung, dia hanya akan mendekati dengan terbang rendah, mungkin bagi sebagian pengunjung itu adalah hiburan, tetapi banyak pengunjung yang takut akan paruhnya yang besar itu dan juga suara kepakan sayapnya yang sangat keras. Karena hak ini, kami juga dilibatkan dalam pemantauan keamanan area selama jam operasional kunjungan, serta dibimbing langsung oleh para keeper mengenai teknik dasar handling dan restrain yang aman dan minim stres, ditambah juga mengenali dasar-dasar pelatihan perilaku satwa yang sangat berguna untuk mendukung prosedur pemeriksaan rutin tanpa menimbulkan trauma pada satwa.  

Di dalam kubah ini saya juga belajar bagaimana pemenuhan gizi yang disesuaikan secara presisi dengan kebutuhan biologis dari masing-masing spesies satwa. Pemberian pakan tidak bisa dilakukan secara seragam karena setiap jenis burung memiliki preferensi nutrisi dan cara makan yang unik. Salah satu contoh menarik yang diajarkan oleh para keeper adalah perilaku burung puyuh yang memiliki insting alami untuk mencari makan dengan cara mengais tanah. Untuk memenuhi insting alamiah itu, pakan burung puyuh sengaja disebarkan di area tanah, bukan di tempat makan gantung. Penerapan enrichment ini terbukti sangat efektif untuk mengurangi tingkat stres dan menjaga perilaku alami satwa selama berada di lingkungan konservasi. 

Memasuki minggu kedua, saya berlanjut ke Klinik yang masih berada di area Taman Burung JSN. Di klinik ini, kami mendapatkan kesempatan belajar dan mengamati kinerja dokter hewan secara langsung bersama drh. Kenda Adhitya Nugraha dan drh. Caesar Rizal Kurniawan, bersama dua paramedis yaitu kak Nada dan Kak Nisa yang sangat berpengalaman dan cekatan. Tugas harian di klinik mempunyai tantangan yang berbeda, karena saya tidak hanya berurusan dengan bangsa burung saja, tetapi bertanggung jawab atas kebersihan, sanitasi, dan perawatan kesehatan harian untuk burung, mamalia, hingga reptil. 

Penanganan kasus-kasus pada satwa yang mengalami gejala anoreksia atau tidak mau makan sering disertai dengan ketidakmampuan untuk mengeluarkan feses. Kami harus mengecek dengan menggunakan pemindaian X-ray untuk menganalisis apakah terjadi sumbatan pada saluran pencernaan atau adanya benda asing yang tertelan secara tidak sengaja. Saya juga berkesempatan mempelajari nekropsi pada satwa eksotik yang sudah mati. Melalui pembedahan ini, dokter hewan dapat menelusuri penyebab utama kematian pada satwa tersebut. Informasi yang didapatkan dari nekropsi ini untuk menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki manajemen pemeliharaan, mencegah penularan, dan meningkatkan kesejahteraan satwa. 

Melakukan kedua pekerjaan sebagai keeper di lapangan dan asisten dokter hewan di klinik membuka mata saya tentang betapa eratnya hubungan antara perawatan harian dan ketepatan tindakan medis. Pengalaman selama dua minggu ini memberikan kesan yang mendalam dalam melihat peran lembaga konservasi dalam menjaga kelestarian satwa-satwa endemik Indonesia. Pengalaman berharga ini menjadi bekal bagi saya untuk melangkah lebih jauh untuk berkontribusi nyata bagi dunia kesehatan satwa liar dan konservasi hayati di Indonesia. Terima kasih untuk para keeper di Taman Burung, Farm House, Museum Komodo, dan Dunia Air Tawar yang sudah membantu saya mencari pengalaman yang sangat berharga di Jagat Satwa Nusantara-TMII.

Berlangganan Layanan Email Kami

Dapatkan informasi mengenai Promo dan Kegiatan di Jagat Satwa Nusantara