“Di balik indahnya kicauan burung dan megahnya koleksi satwa di Taman Burung Jagat Satwa Nusantara, terdapat dedikasi tanpa henti untuk menjaga setiap kehidupan. Saya belajar bahwa menjadi dokter hewan konservasi bukan hanya tentang mengobati satwa yang sakit, tetapi juga memastikan mereka tetap sehat melalui pencegahan, observasi, dan perhatian terhadap setiap detail kecil akan menjadi bagian dari upaya untuk melestarikan kehidupan.”
Bagi sebagian besar orang, Taman Burung Jagat Satwa Nusantara (JSN) di Taman Mini Indonesia Indah merupakan destinasi untuk menikmati keindahan dan keanekaragaman burung dari berbagai wilayah di Indonesia. Namun, di balik kubah-kubah besar yang dipenuhi kicauan burung, terdapat berbagai aktivitas yang jarang diketahui oleh pengunjung. Setiap hari, dokter hewan, keeper, dan tim konservasi bekerja sama melakukan pemeriksaan kesehatan, perawatan medis, rehabilitasi, serta pemantauan kondisi satwa sebagai bagian dari upaya menjaga kesejahteraan dan mendukung pelestarian satwa liar di Indonesia.
Kesempatan untuk melihat proses tersebut secara langsung saya peroleh melalui program magang yang dilaksanakan pada 26 Juni hingga 11 Juli 2026. Selama enam belas hari, saya ditempatkan di dua divisi yang memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan satwa, yaitu Divisi Penangkaran selama sepuluh hari dan Klinik Veteriner selama enam hari. Selama magang berlangsung, saya tidak hanya memperoleh pengalaman baru, tetapi juga memahami bahwa ilmu kedokteran hewan tidak berhenti pada ruang kuliah. Setiap kegiatan di lapangan mengajarkan bahwa menjaga kehidupan satwa membutuhkan ketelitian, kesabaran, kerja sama, serta rasa tanggung jawab yang tinggi. Pengalaman ini memberikan kesempatan bagi saya untuk mempelajari secara langsung penerapan ilmu kedokteran hewan dalam pengelolaan satwa liar ex-situ, mulai dari manajemen pemeliharaan, monitoring kesehatan, hingga penanganan berbagai kasus medis pada satwa eksotik.
Selama berada di divisi penangkaran, saya memahami bahwa keberhasilan konservasi satwa tidak hanya bergantung pada reproduksi, tetapi juga pada penerapan animal husbandry yang baik. Setiap hari diawali dengan monitoring kondisi satwa, pembersihan kandang, penggantian air minum, serta pemberian pakan yang telah disusun sesuai kebutuhan nutrisi masing-masing spesies. Saya juga ikut memberikan vitamin yang dicampurkan ke dalam pakan sebagai upaya menjaga daya tahan tubuh satwa. Dari kegiatan yang tampak sederhana inilah saya belajar bahwa pencegahan penyakit selalu lebih baik daripada pengobatan. Selain itu, saya rutin melakukan monitoring perilaku satwa untuk mendeteksi adanya perubahan kondisi sedini mungkin, karena perubahan perilaku sering kali menjadi tanda awal adanya gangguan kesehatan. Kemampuan observasi menjadi salah satu keterampilan terpenting yang harus dimiliki seorang dokter hewan konservasi.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah mengikuti kegiatan penimbangan satwa sebagai bagian dari monitoring kesehatan. Pada 27 Juni 2026, saya membantu proses penimbangan macaw biru, julang emas, kakatua jambul kuning, trenggiling serta echidna yaitu mamalia unik asal Australia dan Papua yang memiliki karakter nokturnal dan makanan utama berupa cacing serta kroto. Berat badan merupakan salah satu indikator penting dalam mengevaluasi kondisi kesehatan dan status nutrisi satwa. Selama magang, saya juga mengamati berbagai kasus menarik di penangkaran. Seekor bangau tongtong mengalami luka akibat berkelahi dengan individu lain sehingga kehilangan nafsu makan. Satwa tersebut kemudian mendapatkan terapi berupa vitamin dan injeksi obat agar kondisinya cepat pulih. Saya juga melakukan pengamatan terhadap kelembapan kandang elang laut kepala abu, karena kondisi lingkungan yang sesuai sangat berpengaruh terhadap proses perkembangbiakan dan kesehatan satwa.
Pengalaman lain yang cukup menarik terjadi pada seekor merak yang sempat diduga sakit karena terus menundukkan kepalanya. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter hewan, ternyata penyebabnya hanyalah seekor semut yang mengganggu bagian kepala sehingga tidak ditemukan adanya gangguan kesehatan serius. Dari kejadian tersebut saya belajar bahwa diagnosis tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan dugaan awal, tetapi harus melalui pemeriksaan yang menyeluruh. Di penangkaran, saya turut membantu merawat anakan jalak kerbau dan ayam hutan hijau. Saya juga mengetahui bahwa jalak kerbau memiliki sifat yang cukup agresif sehingga sering menjadi predator bagi anakan satwa lain apabila tidak diawasi dengan baik.
Selama enam hari berada di Klinik Veteriner Jagat Satwa Nusantara, saya memperoleh pengalaman yang sangat berharga dengan mengamati pemeriksaan kesehatan, diagnosis, hingga terapi pada berbagai satwa eksotik. Kasus yang saya temui sangat beragam, mulai dari kookaburra (Dacelo novaeguineae) yang mengalami gangguan pernapasan, kakaktua sumba (Cacatua sulphurea citrinocristata) yang kehilangan nafsu makan, hingga angsa boiga (Anseranas semipalmata) dengan fraktur pada jari kaki. Selain itu, terdapat beberapa satwa yang menjalani observasi dan karantina seperti betet hijau (Psittacara holochlorus), perling kumbang (Aplonis panayensis), serta kura-kura semangka (Batagur borneoensis). Saya juga mengamati kura-kura moncong babi yang mengalami penyakit kulit, baning sulawesi yang menjalani perawatan pasca penjahitan luka, serta kelinci dengan gangguan pada tungkai.
Selama kegiatan praktik, saya juga berkesempatan mengikuti pemeriksaan kesehatan (general check-up) pada kakatua raja hitam (Probosciger aterrimus) dari wallacea sahul dan kakatua sumba (Cacatua sulphurea citrinocristata) dari klinik. Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh untuk mengevaluasi kondisi umum satwa, menilai tingkat keparahan cedera, serta menentukan penanganan yang sesuai agar proses pemulihan dapat berlangsung optimal. Saya juga melakukan pemeriksaan sampel feses yang dilakukan secara rutin untuk memastikan satwa sehat dan ada atau tidaknya telur cacing pada feses dan disbiosis. Selain itu, saya turut mengamati pemeriksaan ultrasonografi (USG) pada komodo untuk memantau status reproduksi dan memastikan apakah individu tersebut telah berkembang biak. Pengalaman ini memberikan pemahaman mengenai pentingnya teknik pencitraan non-invasif dalam mendukung evaluasi kesehatan dan reproduksi satwa liar.
Saya juga memperoleh kesempatan mengamati berbagai tindakan medis dan bedah yang membutuhkan ketelitian tinggi, di antaranya amputasi penis (phallus) pada kura-kura sulcata yang mengalami prolaps, operasi pengangkatan testis pada kelinci dengan kondisi ruptur, serta pemeriksaan radiografi (X-ray) pada kura-kura sulcata, buaya, dan ular sanca karpet. Pada kasus ular sanca karpet dan sanca bodo, pemeriksaan dilakukan untuk mengevaluasi adanya abses dan menentukan lokasi serta tingkat keparahan lesi secara lebih akurat. Pemeriksaan radiografi dilakukan untuk memperoleh diagnosis yang lebih spesifik terhadap kelainan yang tidak dapat dipastikan melalui pemeriksaan fisik saja, sehingga membantu dokter hewan dalam menentukan diagnosis dan rencana terapi yang lebih tepat.
Selama enam belas hari menjalani magang di Taman Burung Jagat Satwa Nusantara memberikan pengalaman yang jauh melampaui pembelajaran di ruang kelas. Saya menyadari bahwa menjadi dokter hewan konservasi membutuhkan ketelitian, kemampuan observasi yang baik, keterampilan klinis, serta kerja sama yang erat dengan keeper dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan satwa. Setiap kegiatan, mulai dari pemberian pakan, monitoring perilaku, pemeriksaan kesehatan, hingga penanganan kasus medis, memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan konservasi satwa liar. Pengalaman ini semakin memperkuat motivasi saya untuk terus belajar dan mengembangkan kompetensi sebagai calon dokter hewan yang mampu berkontribusi dalam pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.
Melalui kegiatan magang ini, saya melihat secara langsung bagaimana praktik konservasi ex-situ mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). SDG 3 (Good Health and Well-being) diwujudkan melalui pemeriksaan kesehatan, diagnosis, pengobatan, dan tindakan bedah untuk meningkatkan kesejahteraan satwa. SDG 15 (Life on Land) diterapkan melalui upaya pelestarian satwa liar dengan rehabilitasi, karantina, pemantauan kesehatan, serta pencegahan penyebaran penyakit agar satwa tetap dapat mendukung program konservasi. Sementara itu, SDG 13 (Climate Action) didukung secara tidak langsung karena
konservasi satwa membantu menjaga keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem yang penting dalam menghadapi dampak perubahan iklim. Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh dokter hewan, keeper, dan staf Taman Burung Jagat Satwa Nusantara yang telah membimbing serta berbagi ilmu selama proses magang. Pengalaman ini menjadi salah satu langkah berharga dalam perjalanan saya menuju profesi dokter hewan konservasi yang profesional dan berdedikasi.
“Enam belas hari mungkin hanya sekejap dalam perjalanan saya sebagai calon dokter hewan, tetapi pengalaman ini mengajarkan bahwa setiap tindakan kecil dalam merawat satwa merupakan bagian dari upaya besar untuk menjaga keberlangsungan kehidupan dan keanekaragaman hayati Indonesia.”