#CERITAMAGANG: Belajar Menjadi Dokter Hewan Konservasi di Taman Burung Jagat Satwa Nusantara

“PKV di Taman Burung Jagat Satwa Nusantara mengajarkan kami bahwa kesejahteraan satwa dibangun melalui perhatian terhadap setiap detail, mulai dari kebersihan kandang, manajemen pakan, hingga pemantauan kesehatan. Setiap langkah kecil tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.”

Imtinan Ismi Meutia, Akbar Pahlevi Fauziyah, Andini Rahmani, Geischa Arauna Iriawan

Kami melaksanakan kegiatan Perkenalan Keprofesian Veteriner (PKV) di Taman Burung Jagat Satwa Nusantara TMII selama satu bulan, dari tanggal 2 s.d. 31 Januari 2026. Kelompok kami beranggotakan empat peserta, yaitu Imtinan Ismi Meutia, Akbar Pahlevi Fauziyah, Andini Rahmani, dan Geischa Arauna Iriawan. Dari PKV ini kami mendapatkan pengetahuan mengenai manajemen pemeliharaan satwa endemik di konservasi ex-situ, melakukan observasi dalam pembaharuan matriks pakan, serta pengalaman praktik langsung dalam penerapan ilmu kedokteran hewan, khususnya five domain animal welfare.

Taman burung ini menaungi lebih dari 200 jenis burung endemik yang tersebar di seluruh Indonesia. Dibagi menjadi dua area besar yang dipisahkan oleh garis Wallace, yaitu kepulauan sunda besar yang disebut Greater Sunda dan Indonesia bagian timur disebut dengan Wallacea Sahul. Dalam mengenal seluruh satwa, kami dibagi ke dalam empat bagian area kerja, yaitu kubah Greater Sunda (GS), kubah Wallacea Sahul (WS), Penangkaran, dan Farm House, dengan menggunakan sistem rotasi. Selama kegiatan berlangsung, kami didampingi oleh para zoo keeper. Kami terlibat dalam kegiatan animal husbandry meliputi pengamatan harian kondisi satwa, pembersihan kandang, pemberian pakan, serta pemberian enrichment. Selain itu, kami mempelajari teknik handling, restrain, serta training pada beberapa satwa.

Husbandry yang baik menjadi fondasi awal dalam menjaga keamanan dan kesehatan satwa. Pembersihan kandang kami lakukan setiap pagi untuk mencegah adanya sumber penyakit dari tumpukan kotoran, seperti feses dan sisa-sisa pakan. Pembersihan kandang dilakukan dengan penyapuan dan penyemprotan air, serta desinfeksi sebulan sekali. Selama proses ini juga dilakukan pengamatan kondisi satwa berdasarkan penampilan, respons, tingkat aktivitasnya, juga interaksi satwa dengan lingkungannya. Selanjutnya kami melakukan pencucian tempat pakan dan pengisian ulang air minum. Pakan diberikan sesuai jadwal, sebagian besar satwa diberi pakan sehari sekali dengan porsi yang sudah disesuaikan oleh ahli gizi berdasarkan bobot badannya. Sedangkan untuk anakan burung diberikan sebanyak tiga kali sehari.

Setelah kegiatan husbandry dan pemberian pakan selesai, pada sore hari, kami melakukan monitoring kondisi satwa dan pengecekan sisa pakan untuk dicatat dalam lembar screening. Lembar screening ini berfungsi untuk membantu dokter hewan dalam mengidentifikasi kondisi satwa saat dilakukan General Check Up (GCU), juga berfungsi untuk mengoptimalkan efisiensi dalam pemberian pakan. Selain itu, terdapat enrichment yang diberikan kepada satwa untuk meningkatkan kemampuan motorik dan mendorong insting alaminya.

Kami juga mendapat kesempatan untuk melihat serta mengamati bagaimana kinerja dokter hewan khususnya dalam menangani pasien satwa eksotik yang terdapat di Jagat Satwa Nusantara TMII. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, dokter hewan melakukan General Check Up (GCU) pada satwa sesuai jadwal yang telah ditentukan. Selain itu, dokter hewan memberikan arahan mengenai kapan dan berapa banyak pemberian vitamin, obat cacing, dan desinfeksi kubah dilakukan. Kami juga berkesempatan untuk melihat operasi pada kuda, USG prairie dog, mengidentifikasi tungau di bulu burung menggunakan mikroskop, mempelajari alur nekropsi, dan lain-lain. Tidak hanya mengamati, kami juga diikutsertakan dalam pelatihan menilai body condition score (BCS) pada reptil yang dilaksanakan di Museum Komodo TMII yang disampaikan oleh drh. Kenda Adhitya Nugraha.

Menurut kami, keseluruhan kegiatan PKV ini mendukung penerapan nilai-nilai SDGs, terutama pada nilai #SDGs3 tentang goodhealth and well-being dan #SDGs13 tentang climate action. Sebab dengan pengelolaan husbandry yang baik kesehatan, kesejahteraan satwa, dan lingkungannya dapat terjaga. Satwa memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem yang turut berpengaruh dalam menjaga stabilitas iklim global. Selain itu, upaya pelestarian satwa di konservasi ex-situ ini juga ikut mendukung nilai #SDGs15 mengenai life on land. Setiap ilmu yang kami dapatkan di Jagat Satwa Nusantara menumbuhkan kesadaran kami akan pentingnya peran satwa dalam menjaga keberlanjutan lingkungan hidup. Ucapan terima kasih banyak kepada semua pihak di JSN yang telah mendampingi dan membimbing proses belajar kami, pengalaman ini menjadi bekal yang sangat berharga bagi kami semua.

Berlangganan Layanan Email Kami

Dapatkan informasi mengenai Promo dan Kegiatan di Jagat Satwa Nusantara