Belalang Ranting Sumatra

Nama umum: Belalang Ranting Sumatra

Nama ilmiah: Pharnacia sumatrana

Famili: Phasmatidae

Asal habitat: Endemik di wilayah Asia Tenggara, terutama ditemukan di hutan hujan tropis Sumatra (Indonesia), Semenanjung Malaya, dan beberapa pulau kecil di sekitarnya. Mereka mendiami lapisan tengah hingga kanopi atas hutan primer yang sangat lembap.

Ukuran: Panjang betina dewasa berkisar antara 20–28 cm (bisa melebihi 40 cm jika kaki depannya diluruskan). Pejantan jauh lebih pendek, berkisar antara 14–16 cm, dengan tubuh yang sangat kurus.

Harapan hidup: 1 hingga 1,5 tahun


Ciri-Ciri dan Morfologi

Pharnacia sumatrana adalah salah satu raksasa sejati di dunia serangga. Spesies ini memiliki tingkat kamuflase kriptis yang luar biasa menyerupai dahan kayu berlumut. Tubuh betina sangat panjang, kokoh, dan berwarna hijau zaitun hingga cokelat tua, sering kali dihiasi dengan bintik-bintik putih atau tonjolan ireguler yang meniru tekstur kulit pohon atau lumut kerak (lichen). Sebaliknya, pejantan bertubuh sangat ramping seperti lidi, berwarna cokelat kemerahan gelap, memiliki mata besar untuk navigasi malam hari, dan dilengkapi dengan sayap fungsional untuk terbang, sesuatu yang tidak dimiliki oleh betina dewasa.


Habitat dan Perilaku

Serangga ini adalah penghuni kanopi pohon yang sangat tenang. Di siang hari, mereka mempraktikkan perilaku diam total (catalepsy), meluruskan seluruh kakinya sejajar dengan tubuh untuk mengelabui mata burung predator dan primata hutan. Mereka baru aktif bergerak mencari makan di bawah kegelapan malam. Gaya berjalan mereka sangat unik, yaitu maju perlahan sambil menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, meniru gerakan dahan pohon yang berayun lembut tertiup angin hutan.


Pola Makan

Sebagai hewan herbivora spesialis daun (folivora), Pharnacia sumatrana mengonsumsi dedaunan dari pohon-pohon hutan hujan tropis tertentu. Di alam liar, makanan utama mereka mencakup daun dari keluarga tanaman jambu-jambuan (Myrtaceae), ekaliptus, dan tanaman semak ornamen hutan. Mereka menggunakan rahangnya yang kuat untuk mengikis tepi daun secara rapi dari atas ke bawah. Pada fase nimfa (serangga muda), mereka sangat membutuhkan pasokan pucuk daun muda yang lunak untuk mendukung pertumbuhan tubuh mereka yang melesat cepat setiap kali berganti kulit.


Fakta Menarik

  • Ukuran Telur yang Masif: Karena ukuran dewasanya yang raksasa, telur Pharnacia sumatrana juga berukuran sangat besar untuk ukuran serangga, menyerupai biji tanaman kecil dengan struktur tutup unik (operculum). Telur ini dijatuhkan begitu saja oleh betina dari atas kanopi ke lantai hutan dan membutuhkan waktu hingga 4-6 bulan untuk menetas.

  • Pertahanan Kejut: Meskipun biasanya mengandalkan kamuflase, jika betina dewasa terpojok atau dicengkeram, mereka dapat mengepakkan sisa sayap kecilnya yang tidak fungsional untuk menciptakan suara desiran (stridulasi) yang mengejutkan predator, dibantu dengan duri-duri kecil di kaki belakangnya untuk menendang.

  • Ecdysis yang Berisiko: Proses pergantian kulit (ecdysis) pada spesies ini adalah momen paling kritis dalam hidupnya. Karena kaki dan tubuhnya yang sangat panjang, mereka harus menggantung terbalik di tempat yang tinggi; kesalahan kecil saat menarik kaki keluar dari kulit lama dapat menyebabkan cacat permanen atau kematian.

Berlangganan Layanan Email Kami

Dapatkan informasi mengenai Promo dan Kegiatan di Jagat Satwa Nusantara