“Magang di Jagat Satwa Nusantara membuat saya memahami bahwa setiap tanaman memiliki peran dalam konservasi. Merawat vegetasi bukan hanya menjaga keindahan kawasan, tetapi juga menciptakan habitat yang mendukung kehidupan satwa dan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat.”
Jagat Satwa Nusantara adalah destinasi wisata edukatif berbasis konservasi yang berlokasi di TMII Jakarta. Merupakan hasil revitalisasi lembaga konservasi lama, tempat ini menggabungkan fungsi pelestarian satwa, edukasi, penelitian, dan rekreasi dalam satu kawasan. Dengan berbagai zona seperti Dunia Air Tawar, Dunia serangga, Museum Komodo, Taman Burung dan farmhouse.
Jagat Satwa Nusantara menjadi pusat pembelajaran interaktif tentang keanekaragaman hayati Indonesia sekaligus destinasi wisata yang mendukung konservasi satwa secara berkelanjutan. Melalui program magang hortikultura selama 4 bulan, saya mendapatkan kesempatan untuk belajar secara langsung mengenai manajemen hortikultura, pengelolaan greenhouse, serta peran tanaman dalam mendukung konservasi satwa.
Sebagai bagian dari Divisi Hortikultura Jagat Satwa Nusantara, saya terlibat dalam berbagai aktivitas yang berhubungan dengan perawatan tanaman, pengelolaan lanskap, dan pemeliharaan ekosistem buatan. Dalam konsep kawasan ini, hortikultura tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetika, tetapi juga berperan penting dalam menciptakan habitat alami bagi satwa serta meningkatkan pengalaman edukatif bagi pengunjung.
Fokus utama kegiatan magang saya berada pada greenhouse Nepenthes, yaitu tanaman karnivora yang memiliki nilai konservasi dan nilai ekonomi tinggi. Pengelolaan tanaman Nepenthes membutuhkan perhatian khusus, terutama dalam menjaga kelembapan, suhu, serta media tanam agar tanaman dapat tumbuh secara optimal. Hal ini memberikan pemahaman mendalam mengenai budidaya tanaman hias dan teknik greenhouse management.
Selama magang, saya melakukan berbagai kegiatan teknis, seperti penyiraman tanaman, pembersihan gulma, penggantian media tanam, pemupukan, serta pengendalian hama tanaman. Selain itu, saya juga melakukan pendataan koleksi tanaman (plant data management) dan monitoring kondisi lingkungan greenhouse secara berkala. Aktivitas ini memperkuat pemahaman saya tentang pentingnya data dalam manajemen hortikultura modern.
Pengalaman ini juga mengajarkan bahwa keberhasilan dalam pengelolaan tanaman dan lanskap tidak hanya bergantung pada teknik, tetapi juga pada konsistensi, ketelitian, dan kerja sama tim. Dalam lingkungan kerja yang dinamis, saya belajar mengenai time management, komunikasi profesional, serta problem solving dalam menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
Selain kegiatan teknis, saya juga mendapatkan pengalaman dalam hardscaping dan landscape horticulture, seperti membuat terrarium, paludarium dan elemen taman untuk menciptakan lingkungan yang estetis dan harmonis. Hal ini menunjukkan bahwa hortikultura memiliki peran strategis dalam mendukung konsep wisata edukasi berbasis lingkungan (eco-education tourism).
Melalui pengalaman magang di Jagat Satwa Nusantara, saya semakin memahami bahwa hortikultura dan konservasi satwa merupakan dua aspek yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Pengelolaan vegetasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan satwa sekaligus memberikan nilai edukasi bagi masyarakat. Jagat Satwa Nusantara telah menjadi contoh nyata bagaimana konsep konservasi modern, pengelolaan greenhouse, dan pengembangan eduwisata dapat berjalan secara beriringan dalam satu kawasan terpadu.
Sebagai penutup, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh tim Jagat Satwa Nusantara atas kesempatan dan pengalaman berharga selama program magang ini. Pengalaman ini menjadi langkah awal bagi saya untuk terus berkembang di bidang agribisnis, hortikultura, dan konservasi lingkungan di masa depan.