AKTIVITAS HARIAN DAN TINGKAT EKSPLORASI BUAYA SENYULONG (Tomistoma schlegelii) & BUAYA SIAM (Crocodylus siamensis) DI MUSEUM KOMODO JAGAT SATWA NUSANTARA – TMII

Latar Belakang
Buaya senyulong (Tomistoma schlegelii) merupakan satu dari empat spesies buaya yang terdapat di Indonesia. Buaya ini merupakan buaya air tawar yang memiliki status vulnerable A2cd yang berarti spesies ini berada di ambang kepunahan & dikategorikan jumlah spesiesnya rentan mengalami penurunan jumlah spesies dalam The IUCN Red List of Threatened Species. Hal ini berarti Senyulong menghadapi resiko kepunahan yang tinggi di alam liar (Saputro et al, 2020). Sementara itu buaya Siam (Crocodylus siamensis) adalah salah satu buaya yang paling terancam punah di dunia. Buaya Siam ditemukan di berbagai habitat air tawar, termasuk sungai dan aliran yang mengalir lambat, danau, danau oxbow musiman, rawa, dan lahan basah. Dan status baru yang ditetapkan oleh IUCN pada spesies ini paling terbaru pada tahun 2012 yang dirilis oleh IUCN melalui “Current IUCN Red List Categories for Crocodilians” spesies ini statusnya dikategorikan masih tetap Kritis Terancam Punah. Kesejahteraan hewan merupakan isu penting dalam konservasi dan pengelolaan spesies liar, termasuk reptil seperti buaya. Di Indonesia, dua spesies buaya yang menarik perhatian adalah Buaya Senyulong (Tomistoma schlegelii) dan Buaya Siam (Crocodylus siamensis). Selain itu, buaya merupakan predator oportunistik, sehingga manusia merupakan salah satu yang menjadi mangsa alternatif bagi buaya hal tersebut dapat terjadi ketika mangsa alami mereka berkurang atau bahkan habis dalam habitat (Ardiantono dkk., 2015). Museum Komodo Jagat Satwa Nusantara sebagai lembaga yang berfokus pada pendidikan dan konservasi hewan, menyediakan lingkungan yang ideal untuk menganalisis kesejahteraan kedua spesies ini. Dikutip dari Shidqi (2022), Konservasi merupakan kegiatan pelestarian ataupun perlindungan. Asal kata berasal dari bahasa Inggris, dan memiliki arti lestari atau lindungi. Melindungi satwa dengan memanipulasi perubahan dan interaksi antara satwa dengan lingkungan, merupakan tujuan dari manajemen pemeliharaan (Dalimunthe, 2019). Manajemen pemeliharaan satwa dilakukan untuk tercapai keberlangsungan hidup satwa yang sejahtera. Pentingnya melakukan penilaian tingkat kesejahteraan satwa untuk melakukan perbaikan dan optimalisasi manajemen pemeliharaan satwa.

Keenan Garcianov Lasamahu_Laporan Magang TMII_

Berlangganan Layanan Email Kami

Dapatkan informasi mengenai Promo dan Kegiatan di Jagat Satwa Nusantara