Sejarah spesies Parosphromenus atau yang kita kenal sebagai Licorice Gourami adalah sebuah perjalanan panjang yang dimulai dari penemuan tunggal di pertengahan abad ke-19 hingga menjadi simbol konservasi lahan basah Asia Tenggara di masa modern.
1. Awal Mula Penemuan (Abad ke-19)
Kisah Parosphromenus dimulai pada tahun 1859 ketika seorang dokter militer sekaligus ahli iktiologi asal Belanda, Pieter Bleeker, mendeskripsikan sebuah spesies ikan kecil yang ditemukan di Pulau Bangka, Indonesia. Bleeker memberi nama ikan tersebut Osphromenus deissneri. Saat itu, ia belum menyadari bahwa ikan ini sangat berbeda dari kelompok gurami lainnya. Baru pada tahun 1879, para ahli memisahkan mereka ke dalam genus baru yang disebut Parosphromenus. Nama ini secara harfiah berarti “menyerupai Osphromenus” (genus gurami besar).
2. Masa “Satu Spesies” yang Panjang
Selama lebih dari seratus tahun setelah penemuan pertama tersebut, para ilmuwan menganggap bahwa hanya ada satu spesies Licorice Gourami di dunia, yaitu Parosphromenus deissneri. Setiap kali ditemukan ikan serupa di Semenanjung Malaya, Sumatera, atau Kalimantan, para peneliti selalu melabelinya sebagai P. deissneri. Hal ini menciptakan kekeliruan sejarah yang panjang, di mana identitas asli dari puluhan spesies yang berbeda tersembunyi di bawah satu nama selama satu abad lebih.
3. Ledakan Taksonomi (Era 1950-an – 1990-an)
Kesadaran akan keragaman spesies ini mulai terbuka pada pertengahan abad ke-20. Pada tahun 1952, spesies kedua, Parosphromenus parvulus, ditemukan di Kalimantan. Namun, ledakan penemuan sesungguhnya baru terjadi pada tahun 1990-an. Para peneliti seperti Maurice Kottelat dan Peter Ng mulai menyadari bahwa setiap kantung rawa gambut yang terisolasi di Asia Tenggara ternyata menyimpan spesies Parosphromenus yang berbeda dan unik. Mereka mulai mendeskripsikan spesies seperti P. harveyi, P. bintan, dan P. ornaticauda, yang membuktikan bahwa genus ini jauh lebih kompleks daripada yang diperkirakan sebelumnya.
4. Era Modern dan Proyek Parosphromenus (2000-an – Sekarang)
Memasuki abad ke-21, penelitian terhadap genus ini semakin intensif seiring dengan meningkatnya minat penghobi ikan hias eksotis. Namun, sejarah mereka kini bercampur dengan narasi yang tragis. Seiring dengan pembukaan lahan besar-besaran, perkebunan sawit, dan pertambangan di Sumatera dan Kalimantan, banyak habitat asli ikan ini yang hilang sebelum spesiesnya sempat diberi nama.
Untuk menghadapi ancaman kepunahan ini, para ahli dan penghobi di seluruh dunia membentuk Parosphromenus Project. Proyek ini bertujuan untuk mendokumentasikan setiap spesies secara akurat, memetakan habitat yang tersisa, dan melakukan program pengembangbiakan di luar habitat aslinya (ex-situ). Penemuan terbaru seperti Parosphromenus gunawani pada tahun 2021 menunjukkan bahwa sejarah genus ini masih terus ditulis, meski mereka kini berpacu dengan waktu melawan kerusakan alam.
5. Fakta Menarik dalam Sejarah Parosphromenus
-
Spesies Misterius: Banyak spesies yang kini ada di akuarium kolektor sebenarnya belum memiliki nama ilmiah resmi dan hanya diberi kode berdasarkan lokasi penemuannya (misalnya Parosphromenus sp. Sentang).
-
Evolusi Terisolasi: Sejarah mereka adalah contoh nyata dari evolusi isolasi; karena ikan ini tidak suka berenang jauh, populasi yang terpisah oleh satu bukit atau sungai kecil selama ribuan tahun berevolusi menjadi spesies yang berbeda warna dan pola siripnya.
-
Dari Hutan ke Laboratorium: Meski dulu dianggap hanya ikan rawa biasa, kini Parosphromenus menjadi subjek penting dalam studi biogeografi untuk memahami sejarah geologi paparan Sunda di masa lampau.