Jakarta, 22 Oktober 2026 – Menjelang puncak agenda pelepasliaran yang diagendakan pada 5 November 2026 mendatang, Jagat Satwa Nusantara (JSN) tengah mematangkan serangkaian tahapan adaptasi merak hijau. Proses rehabilitasi ini dipersiapkan secara khusus untuk mengasah kembali naluri liar satwa sebelum mereka dikembalikan ke habitat aslinya di alam bebas.
Sebagai langkah krusial yang paling awal, tim teknik telah merampungkan pembangunan kandang rehabilitasi sesaat setelah tahap survei lokasi selesai dilakukan. Fasilitas ini dirancang secara presisi oleh tim Life Science dengan dimensi raksasa, yakni panjang 10 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 7 meter. Karena ukurannya yang besar, pembangunan menggunakan konsep konstruksi modular yang menyerupai “Lego raksasa”. Struktur besi ini tidak dipasang secara utuh sejak awal, melainkan dirancang agar mudah dirakit, kokoh, dan memiliki fleksibilitas untuk dibongkar pasang.
Dalam proses pembangunannya, tim sempat menghadapi kendala lapangan berupa permukaan tanah yang sangat keras akibat tidak terkena air hujan selama berbulan-bulan. Untuk menyiasatinya, tim harus menyiram tanah dengan air terlebih dahulu guna mempermudah proses penggalian lubang tiang. Setelah seluruh lubang tumpuan siap, tiang-tiang besi raksasa didirikan dan dirangkai satu per satu melalui kolaborasi padu seluruh anggota tim. Fasilitas ini juga telah dilengkapi jaring pengaman serta kamera CCTV untuk memantau aktivitas dan perkembangan perilaku merak hijau selama masa pemulihan.
Setelah infrastruktur kandang siap, proses rehabilitasi satwa pun dimulai. Pada 2 September lalu, tim Animal Keeper Taman Burung mulai memasuki kandang rehabilitasi tersebut untuk menyiapkan enrichment (pengayaan lingkungan). Fasilitas enrichment dibuat di dalam kandang untuk membantu merak hijau beradaptasi agar lebih familiar dengan kondisi lingkungan yang menyerupai tujuan akhir mereka, yaitu Pulau Handeuleum.
Sebelum proses pemindahan satwa dilakukan, seluruh tim menyempatkan diri untuk melakukan doa bersama demi kelancaran kegiatan. Tim Animal Keeper Taman Burung kemudian merelokasi merak hijau ke dalam kandang yang telah terbagi menjadi dua area terpisah, yakni area untuk kelompok berisi empat ekor dan area lainnya untuk tiga ekor.
Selama menempati fasilitas ini, pola makan merak hijau diatur dan disesuaikan secara berkala mengikuti jenis pakan alami yang nantinya akan tersedia di Pulau Handeuleum, merujuk pada hasil survei lokasi sebelumnya. Penempatan satwa di dalam kandang rehabilitasi ini pada dasarnya bertujuan untuk memancing serta mengembalikan perilaku dan insting alami satwa sebelum nantinya dirilis.
“Proses pemulihan dan adaptasi di fasilitas ini diproyeksikan akan berlangsung selama kurang lebih 1,5 bulan. Setelah masa rehabilitasi selesai, burung merak hijau ini siap untuk dilepasliarkan secara resmi di Pulau Handeuleum,” ujar Darma, Head Keeper Taman Burung, Jagat Satwa Nusantara.
Rangkaian panjang ini sejalan dengan visi JSN sebagai lembaga edukasi dan konservasi. Melalui persiapan pelepasliaran ini, JSN ingin mengajak masyarakat memahami bahwa upaya pengembalian satwa ke alam membutuhkan perencanaan teknis, ketekunan proses adaptasi, hingga pemantauan perilaku yang berkelanjutan.
Narahubung Media
Firly Dhiya Alvita
Email: firly.alvita@jagatsatwa.id
Jagat Satwa Nusantara
Website: www.jagatsatwanusantara.id
Instagram: @jagatsatwa.tmii
Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta