JAKARTA, 1 Agustus 2026 – Jagat Satwa Nusantara (JSN) mencatat pencapaian penting dalam program konservasi satwa melalui keberhasilan penetasan Nuri Kabare ( Psittrichas fulgidus ). Keberhasilan ini menjadi penetasan pertama Nuri Kabare yang tercatat di Taman Burung. Nuri Kabare merupakan burung paruh bengkok endemik Papua yang memiliki karakter biologi dan kebutuhan pemeliharaan yang spesifik. Spesies ini saat ini berstatus Rentan (Rentan) berdasarkan Daftar Merah IUCN.
Proses dimulai pada 3 Juli 2026, ketika induk Nuri Kabare menghasilkan satu telur. Berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi, telur kemudian dipindahkan ke inkubator untuk menjalani proses inkubasi terkontrol. Suhu, kelembaban, perkembangan embrio, serta kondisi telur dijaga secara berkala oleh tim Taman Burung bersama dokterhewan Jagat Satwa Nusantara.
Setelah menjalani 28 hari masa inkubasi, tanda awal penetasan atau pipping terpantau pada 31 Juli 2026 pukul 09.00 WIB. Proses penetasan kemudian berlangsung di bawah pengawasan intensif tim hingga anakan Nuri Kabare berhasil keluar dari cangkang pada pukul 16.40 WIB, dengan bobot awal 18,94 gram. Keberhasilan tersebut menjadi salah satu hasil dari pengembangan program peternakan terkontrol yang dijalankan Jagat Satwa Nusantara sebagai bagian dari upaya konservasi eks-situ.
Direktur Utama Jagat Satwa Nusantara menyampaikan bahwa keberhasilan penetasan ini bukan hanya menjadi pencapaian, tetapi juga menjadi bagian dari proses pengembangan pengetahuan dan praktik konservasi satwa di JSN. “Keberhasilan ini menunjukkan pentingnya pengelolaan pemuliaan yang berbasis data, observasi, dan evaluasi secara konsisten. Bagi kami, setiap keberhasilan reproduksi satwa memiliki nilai penting karena dapat memperkuat pengetahuan mengenai biologi, reproduksi, serta pengelolaan spesies tersebut di lembaga konservasi,” ujarnya.
Saat ini, anakan Nuri Kabare menjalani perawatan intensif melalui metode pemeliharaan tangan di fasilitas pembibitan Taman Burung. Tim secara rutin melakukan pemantauan terhadap perkembangan bobot tubuh, respon pemberian pakan, suhu lingkungan, kondisi fisik, serta indikator pertumbuhan lainnya.
Keberhasilan ini sekaligus memperkuat komitmen Jagat Satwa Nusantara dalam menjalankan fungsi lembaga konservasi tidak hanya sebagai tempat pemeliharaan satwa, tetapi juga sebagai pusat pengembangan pengetahuan, penelitian, edukasi, dan upaya pengembangbiakan satwa secara terukur dan berkelanjutan.
Kontak Media:
Dinda Marsha
Public Relation Education & Conservation
Jagat Satwa Nusantara
dinda.marsha@jagatsatwa.id
0812-9466-4630